Without you - 3

Ada apa denganku hari ini. Aku seperti akan ditinggalkan 2 orang yang berharga dalam satu hari. Kenapa bukan aku saja yang pergi?, aku tidak sanggup menjalani ini semua sendiri. Mungkin ini waktunya aku mengatakan selamat tinggal.


 
Maaf sempat hilang 6 hari sempat kehabisan ide cerita, maklum masih amatuir (amatir dan tuir, huhuhu) 

Senin, 11 mei 2020 jam istirahat
"Fris" tristan memanggil di dekat pos security tempat kerjanya
"Hai, tris" aku membalas sapaan dan tersenyum, mungkin hari ini aku harus menyelesaikan semuanya
"Makan siang bareng yu?" 
"Hayu, dimana?
"Menurut kamu dimana?, jangan jawab terserah"
"Okee ditempat biasa aja kalo gitu"
"Okke"
"Tunggu!" Tiba-tiba aku berhenti jalan "Aku cek dompet aku dulu"
"Hahaha, gak apa apa kali gak bawa juga, aku yang bayar fris"
"Gak mau, udah aman, ada ko, yu" aku berjalan mendahului tristan

Di tempat makan
"Kamu kemana aja sih fris?, semua surel sama dm aku di sosmed ga ada yang kamu bales?, kamu tiba-tiba hilang gitu aja?"
"Ibuku sakit tris, aku tinggal sementara di rumah tante"
"Ya kan bisa kamu kabarin, bales semua pesan aku, ganti nomer juga gak bilang" tristan terlihat kesal
"Aku ga ganti nomer masih no 39 sepatuku" jawabku dengan polos
"Nomor hp friiiizzz, aku serius, gue nyariin lu, tanya ke temen-temen lo, ke tetangga rumah ga ada yang tau lo kemana!, kenapa pesan aku ga ada yang dibales?"
"Kan lo udah punya kehidupan baru gue ga mau ganggu lah, ntar ada yang salah paham"
"Dian tau kita sahabatan, kenapa lo setakut itu?, apa ada hal lain?"
"Nggak cuman itu aja ko" 'tris gue ga sanggup liat lo nikah sama orang lain' inginku mengatakan itu.
"Sampe ibu kamu meninggal juga kamu ga ngabarin, padahal ibu kamu udah aku anggap ibuku juga" mata tristan terlihat berkaca-kaca, aku tidak menyangka segitu berharganya ibuku dimata tristan
"Maaf tris, gue takut ganggu kebahagiaan lo"
"Kebahagiaan di hidup gue pergi sebulan sebelum gue nikah fris"
"Maks..." pertanyaanku terhenti mendengar nada dering panggilan masuk dari atasanku, aku langsung mengangkat telepon karena tidak biasanya mengganggu waktu istirahatku "halo dok" atasanku mengatakan kalau ada kebakaran di tempat kerjaku.
"Friska saya terima berita code red di aktifkan di laboratorium tolong dicek apa saja yang rusak dan apakah ada sampel yang ikut terbakar"
"Hah? Tadi saya tinggal baik-baik saja dok, baik dok saya cek sekarang" telepon pun ditutup
"Tris aku ke laboratorium dulu ya, kamu lanjut makan aja"
Aku pergi meninggalkan tristan, sampai di laboratorium
"Surpriseee" teman-temanku memberikan kejutan ulang tahun
"Hahh? Bukannya ada kebakaran?" Nafasku masih tidak beraturan karena baru saja berlari menaiki tangga darurat (saat terjadi kebakaran disebuah gedung dilarang menaiki lift ya guys)
"Ya ini kebakarannya" temanku menunjuk lilin diatas kue
"Apa perlu gue matiin pake apar?" Aku langsung memegang tabung merah pemadam api di dekatku
"Eeeehh jangan laaah" teman-temanku menjawab bersamaan "hahahahaha" kami pun tertawa bersama-sama. Aku lupa hari ini ulang tahunku. 
"Makasih yaa teman-teman, kalian berhasil" aku tersenyum haru
"Ayo tiup lilin, jangan lupa make a wish"
Aku memejamkan mata dan berharap semua dapat kembali seperti dulu namun ada suara hati lain yang mengatakan tidak mungkin, aku pun mengganti doaku 'semoga aku mendapatkan yang terbaik' 

Di perjalanan pulang aku mengingat kembali yang dikatakan tristan saat makan siang, ucapannya seperti memberi angin segar tapi aku tidak memahami sepenuhnya.
Aku memang meninggalkannya tanpa kabar, 6 bulan setelah kami wisuda tristan mengajakku candle light dinner, hal yang begitu romantis bagiku dan begitu spesial baginya karna ada hal besar yang akan dia katakan disana. 
"Kamu mau ngomongin apa sih sampe harus ngomong disini" tanyaku penasaran setengah ke-gr-an
"Pokoknya ini spesial dan harus dikatakan di tempat spesial dengan teman spesial" tristan tersenyum lebar
'Teman' firasatku menjadi buruk saat mendengar teman spesial "apa?" Tanyaku singkat
"Aku mau nikah fris!" Senyum tristan makin lebar
"Nikah?, secepat ini? Baru lulus langsung nikah?"
"Pengennya sih pas kuliah tapi orang tua dian ga ngizinin, aku juga sebenernya udah ngelamar dian pas habis wisuda"
'Dian?, siapa dian?, wisuda? Pantes pas habis wisuda tristan langsung pulang' pertanyaan dalam hatiku
"Oh iya aku belum pernah cerita tentang dian ya?" Tristan seperti mendengar suara hatiku "Dian it..." suara tristan terdengar samar-samar aku seperti kehilangan kesadaran, selama ini kupikir aku yang akan tristan nikahi karena dia memperlakukanku begitu spesial, kita tertawa dan sedih bersama-sama, melakukan hal-hal baru bersama selama ini, tapi ternyata hanya teman, aku hanya teman "menurut kamu gimana fris?" Pertanyaan trsitan menyadarkan aku
"Hah?, selamat ya tris" aku berusaha tidak terlihat kecewa 
"Makasih ya fris" tiba-tiba handphone tristan menampilkan foto dan nama dian dengan dering lagu endless love, tristan mengangkat handphone dan menunjukannya padaku "ini dian fris, aku angkat dulu ya" tristan terlihat sangat bahagia dia berdiri dan meninggalkanku.
Aku berusaha tidak menangis tapi semua seketika terlihat buram tertutup air mata. Aku pikir aku gak sanggup dan pergi meninggalkan mejaku dan tristan. Sampai di rumah aku mengirim pesan ke tristan.
Friska  :  Tris maaf ninggalin, aku sakit datang bulan, aku ikut seneng kamu mau nikah, maaf ga bisa rayain kebahagiaan kamu
Tristan : Perutnya udah di kompres? Biar gak terlalu sakit, bentar lagi aku kesana aku mau siapin air panas buat mandi kamu biar enakan
Friska  : Gak usah tris aku mau minum obat aja sama istirahat
Tristan : Yaudah kalau gitu selamat istirahat ya, semoga sakitnya cepat hilang
Perhatian tristan selama ini ternyata perhatian selevel teman. Air mataku terus mengalir mengingat hal tragis ini. Tiba-tiba suara piring jatuh terdengar di dapur. Aku ke dapur dan mengecek ternyata ibuku sudah tergeletak di dapur dengan pecahan piring disampingnya. "Ibu!".

"Dilihat dari pemeriksaan fisik, hasil laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya ibu kamu sakit leukimia untuk memastikan jenis kanker dan pengobatan, ibu kamu perlu melakukan pemeriksaan lanjutan"
"Haaah?" Suara dan badanku langsung lemas, aku menyandarkan tubuhku ke kursi berusaha tidak terjatuh. Ada apa denganku hari ini. Aku seperti akan ditinggalkan 2 orang yang berharga dalam satu hari. Kenapa bukan aku saja yang pergi?, aku tidak sanggup menjalani ini semua sendiri. Mungkin ini waktunya aku mengatakan selamat tinggal. "Dok saya minta surat rujukan, saya akan merawat ibu saya di rumah sakit dekat rumah tante saya". Saat itu juga aku pergi dengan ambulance ke rumah sakit dekat rumah tanteku, tanpa meninggalkan pesan untuk tristan, aku tidak sanggup berpura-pura bahagia, tristan pun tau aku tidak pandai berbohong. Aku tidak sanggup bertemu dengannya lagi. Selamat tinggal tris, semoga kamu bahagia.
Hari itu ternyata sebulan sebelum tristan menikah, dan seperti dugaanku sebulan kemudian aku ditinggal dua orang yang paling berharga dalam hidupku, tristan menikah dan ibuku meninggal.


Haii teman-teman saya pribadi mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin, Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. hah pribadi? bukan kelurga? iyah belum berkeluarga. hahahaha curhat colongan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Without you - 2

Without you - 1

Without you - 4