Without you - 1
Ada beberapa cerita dalam hidup yang tuhan ciptakan hanya untuk menjadi seperti lukisan indah.Terpajang di dalam pigura emas mewahDisimpan di tempat terbaik di sudut istana megahSemuanya indah tapi hanya dinikmati sesaat saja...Terpajang hanya untuk membangkitkan memori yang dinikmati keindahannyaTidak memiliki alur cerita selanjutnya...
Selasa 28 april 2020
Saat itu aku menunggu diluar, memperhatikan jalan sampai seseorang menyebut namaku dengan keraguan
"Friska?" Tristan memanggilku"Hai tris" jawabku
"Apa kabar? Lagi apa?"
"Aku sehat, lagi nunggu temen bayar makanan, kita habis makan" aku melirik sahabatku yang sedang antri di depan kasir, antrian saat itu begitu panjang "kamu sendiri?"
"Aku sehat juga, aku baru mau makan. Lama ya ga ketemu? Kemana aja?"
"Aku ga kemana mana cuman emang jarang keluar sih, kamu ngapain disini tris?"
"Iya, ini lagi istirahat aku kerja daerah sini"
"Yu pulang ka" tiba-tiba revi ngeloyor jalan duluan sambil hitung uang kembalian ga nyadar kalau aku sedang ngobrol.
"Aku pulang duluan ya tris" aku pergi setengah berlari meninggalkan ketidaknyamanan dan takut ditinggal revi.
"Iya hati-hati ya fris"
Aku balas dengan senyum dan pergi.
Tristan 'senyuman itu tetap sama'
Seminggu kemudian aku kembali ke tempat dimana aku bertemu tristan, sendirian karena revi masih sibuk dengan pekerjaannya, dan takdir mempertemukan kami kembali. Dia baru akan makan begitupun aku, dan kami pun duduk di satu meja.
"Ini ambil pudding punyaku" tristan memulai pembicaraan, hari ini memang free pudding disini setiap pembelian paket nasi ayam goreng.
Dalam hatiku 'masih tristan yang sama'. "Makasih tris" jawabku dengan ditambah senyuman canggung
"Kerja dimana?" Tanya tristan"Aku kerja di Rumah sakit itu" sambil menunjuk sebuah gedung tinggi 9 lantai
"Lah tempat kerja kita tetanggan, sejak kapan disitu?"
"Baru 6 bulan"
"Ko baru ketemu ya?" Tristan menatap dengan kening berkerut tanda penasaran
Aku juga baru tau "Takdir mungkin" jawabku asal
"Hahahahaha" tristan tertawa sampai satu ruangan menatap ke arah kami, "ibu kamu apa kabar?"
Aku menelan ludah dan menghela nafas"Ibuku udah ga ada"
"Maaf aku ga tau" seketika suasana menjadi hening, keheningan memberi waktu kami untuk menghabiskan makanan di meja.
"Masih ga berubah ya, suka banget sama pudding" tristan memecah keheningan"Kamu sendiri masih ga suka pudding?" Aku asal bertanya sambil melahap sendokan terakhir puding
"Aku lebih suka sama orang yang suka makan pudding"
Ucapan tristan membuatku seperti menelan buah jambu bulat-bulat "Balik yu, waktu istirahat udah selesai"aku langsung berdiri
"Yaudah keluar duluan aku yang bayar" "Ga usah makasih" aku menolak dengan halus lalu kami antri berdua di depan meja kasir, 'sialnya hari ini, aku lupa bawa dompet !!'.
Tanpa diminta tristan langsung membayar makananku.
"Pulang dari sini aku ganti ya tris" aku berbicara tanpa menatapnya"Ga usah aku kan tadi udah bilang kamu tunggu diluar aku yang bayar"dia berbicara sambil menatapku.
Melihat tatapan tajam tristan aku langsung memalingkan muka ke arah lain "ngga ah gak enak".
Jam pulang kerja...
Sebelum pulang aku nunggu tristan di pinggir jalan untuk kembalikan uang.
"Tris!!!" Reflek aku berteriak saat melihat tristan keluar pintu kantornya, "ini aku kembaliin uang tadi" tristan mengabaikan uangku"Ga usah fris"
"Ga mau" aku menarik tangan tristan dan menyimpan uang itu ditangannya "pulang duluan yah" aku pergi ke arah motorku yang terparkir di pinggir jalan dan mengabaikan apa yang dia katakan.
Selama perjalanan pulang otaku terus mengingat-ingat masa lalu bersama tristan. Karena disini di Bandung tempat dimana aku menuntut ilmu sebagai mahasiswi ahli teknologi laboratorium medis, 3 tahun disana membuat setiap jengkalnya selalu memutarkan memori bahagia maupun sedih dalam ingatanku.
Bertemu tristan memutarkan ingatan bahagia yang berakhir tragis. Rasa sesak itu muncul kembali, air mata pun tak tertahan lagi. Entah kemana harus pergi untuk hilangkan sedih ini. Motor vespa ini pun menjadi saksi bisu bahagianya aku bersama tristan waktu itu. Akhirnya aku putuskan ke rumah revi.
Kamar Revi
"Whaaaattt??" Revi berteriak dan melotot tepat di depan mukaku
"Biasa aja kali, bau banget tuh mulut" aku mengipas tanganku di depan muka berusaha menghilangkan bau sesegera mungkin
"Sory abis makan jengkol, hehhe" revi nyengir
"Anjir, pengen pingsan rasanga" jawabku kesal
"Itu gimana ceritanya?, ko bisa ketemu lagi?"
"Ga tau!! takdir kali" jawabanku masih penuh emosi
"Gila yaa padahal udah berusaha ngehindar akhirnya ketemu lagi?, hahha lucu ya hidup lo" Teriak revi, sambil tangannya bergerak menghidupkan laptop. "Pantesan bengong melulu daritadi mikirin itu yaaa?" Wajahnya berubah seperti bersiap meledek.
"Ga usah teriak-teriak bambang" mataku melotot
"Udah laaah lupain kita nonton aja, nonton drakoooor" teriakan revi seperti sedang bernyanyi seriosa
"Siapa pemeran utamanya?"
"Aa Min Hoooo"
"Manaa?" Aku menarik laptop revi "Ih gila ganteng banget ya rev"
"Iyalah pacar gue"
"Mana mau lee min hoo sama orang jengkolan"
"Ehh jahat banget tuh mulut!, tapi emang bener sih"
Sejam kemudian
"Rev, kayanya ini deh yang bikin gue ga nikah-nikah" celetukku
"Apa?, tristan?" Revi menjawab penasaran
"Jodohnya masih disana" aku menunjuk ke arah laptop dengan gambar lee min hoo
"Haaall lu" revi memukul wajahku dengan bantal
Rumah tristan
Dimeja kerjanya, tristan memutar-mutar pensil yang dipegangnya. Pensil itu baru saja mengguratkan isi hatinya di sebuah buku. Dibuku yang juga menjadi saksi bisu kebersamaannya dengan friska. Dan disebagian lembaran ada friska di dalamnya.
Buku pelangi
Ada beberapa cerita dalam hidup yang tuhan ciptakan hanya untuk menjadi seperti lukisan indah.
Terpajang di dalam pigura emas mewah
Disimpan di tempat terbaik di sudut istana megah
Semuanya indah tapi hanya dinikmati sesaat saja
Terpajang hanya untuk membangkitkan memori yang dinikmati keindahannya. Tidak memiliki alur cerita selanjutnya.
Salah satu lukisan itu bercerita tentang persahabatan yang ternyata menyimpan perasaan lebih dalam. Persahabatan yang terpisah karna salah satunya memiliki pasangan. Hey you. Aku menyesal. Keinginanku menulis cerita selanjutnya denganmu, tapi tuhan takdirkan cerita itu menjadi lukisan indah dalam hidupku.
Tristan 2 mei 2020
Maaf maaf kalau banyak tulisan yang salah, maklum masih belajar, di maafin yaaak. ceritanya lanjut besoook...
Komentar
Posting Komentar