Without you - 4
Di lampu merah dekat lapangan gasibu, saat hari minggu biasanya berubah jadi pasar. Terjebak lampu merah disana membuat tristan mengingat kembali kenangannya bersama friska.
"Berapaan bang?" friska memegang celengan tanah liat
"50 rebu neng"
"Beli satu bang nih uangnya" friska memberikan uang selembar 50.000
"Nih plastiknya neng"
"Gak usah bang disimpen di tas aja" (go green gais kurangi penggunaan plastik yah)
"Oohh makasih neng"
"Gitu doang?" Tanya tristan
"Apa?"
"Gak nawar gitu?, langsung beli?" Heran tristan
"Nggak, aku gak bisa nawar"
"Padahal lumayan loh di tempat itu harga segitu bisa dapet 2" tristan menunjuk penjual yang menjual barang yang sama dengan tulisan harga Rp.25.000
"Beda kualitas kali tris"
"Sama ah, coba aja cek" kami menghampiri penjual itu dan membandingkan barang dagangannya dengan yang sudah friska beli
"Anjir sama banget tris" keluh friska
"Makanya nawar, cewek biasanya sampe berdarah-darah, berbusa-busa buat nawar, ini main beli-beli aja" protes tristan
"Cewek yang satu ini beda, udah ah bodo amat"
"Iyah cewek abnormal emang. Beli apalagi nih mumpung disini?"tanya tristan
Friska sedikit memukul punggung tristan tanda tidak setuju di sebut abnormal "enak aja bukan abnormal tapi spesial, udah aku mah. Cuman niat beli ini aja"
"Yakin? Cewek kan biasanya niat beli A jadinya beli B, C, D dan barang A nya ga jadi dibeli" tristan melihat friska tersenyum dan menunjuk mukanya sendiri "oh iya aku kan lagi bawa cewek abnormal"
Muka friska langsung merengut menghilangkan senyuman tadi
"Eh iya iya iya cewek spesial. Hahahaha" tristan tertawa puas, lamunan itu membuat senyuman muncul di wajah tristan membuat dian yang duduk disampingnya bertanya
"Kenapa tris, kamu lihat apa?" tanya dian dengan penuh keheranan
Tanpa sadar tristan menjawab "aku inget friska, eh aku lihat boneka" tristan langsung meralat pernyataannya
Dian makin keheranan karna tristan tidak menginjak pedal gasnya "tris lampunya sudah hijau" mobil dibelakang juga sudah menekan-nekan klakson.
"Iyah sabar-sabar" tristan bergumam dan menginjak pedal gas "di, aku besok ada workshop tugas dari kantor ke luar kota selama 3 hari ya"
"Iya tris, hati-hati di jalan ya, jangan banyak bengong juga disana"
"Hehhe, iya di" tristan tertawa malu
Saat tristan ke luar kota dian membereskan meja kerja tristan dan menemukan buku dengan gambar pelangi, buku yang tidak lazim ada di meja kerja pria dewasa. Dian membuka buku itu untuk melihat nama pemilik buku, tapi tulisannya tidak asing, semua berisi tulisan tristan. Berisi teori-teori dan rumus-rumus serta reaksi kimia, juga... curahan hati tristan.
Dian
"Kamu friska kan?" Seorang perempuan cantik dengan kulit putih menghampiriku saat makan siang
"Iya, maaf kamu siapa ya?" Aku keheranan dan merasa pernah melihatnya
"Saya dian, istrinya tristan, boleh aku duduk disini?"
Aku berusaha menyembunyikan perasaan kagetku dengan langsung menjawab "Boleh silahkan duduk aja kosong ko kursinya" malaikat juga tau kursi itu kosong, tidak ada manusia yang sedang di catat amalnya disana.
"Pertama aku melihat kamu di depan kantor tristan, saat kamu pegang tangan tristan untuk kembaliin uang"
"mmhh jangan salah paham ya waktu itu tristan ga mau terima uangku" aku langsung menjelaskannya
"Gak apa-apa ko aku sudah tau, tapi kalau boleh jujur ada tatapan yang membuatku iri saat itu" dian menghela nafas seperti merasakan sesak "tristan terlihat bahagia saat kamu memanggilnya, dan dia tidak melepaskan pandangan dari kamu, saat kamu pergi meninggalkannya dia melihatmu sampai kamu hilang di ujung jalan" mata dian sedikit berkaca-kaca "lama aku menunggu tristan memalingkan muka dari kamu fris, saat kamu pergi tristan terlihat sangat kecewa"
"Aku yakin itu hanya perasaan kamu saja" aku berusaha menghibur
"Awalnya aku berpikir seperti itu sampai aku menemukan buku ini" dian menyerahkan buku catatan tristan, buku yang tidak asing buku yang kita beli saat masih kuliah, aku yang memilih buku itu, buku dengan gambar pelangi. Buku yang menemani tristan mengarungi samudera ilmu kimia, kimia bagiku seperti tumpahan tinta hitam yang perlu diberi sedikit warna agar tidak terlihat suram, gambar pelangi itulah yang akan memberi warna. Aku ingat betul tawa tristan saat mendengar perkataanku tentang kimia tapi baginya itu masuk akal dan mau membeli buku itu, buku yang sebenarnya tidak cocok dibawa seorang laki-laki.
Tiba-tiba dian menangis. Aku meraih buku itu dan berusaha menenangkannya.
"Aku memiliki tristan tetapi tidak dengan hatinya, disana banyak tertulis nama kamu fris"
Di setiap halaman banyak rumus-rumus dan reaksi kimia tertulis dengan rapih, jika membuka lembar demi lembar terkadang menemukan curahan hati pemilik buku. Aku menemukan tulisan kalau tristan telah jatuh cinta kepada dian, nenek dian ternyata tetanggaku, dian lama tinggal di luar negri sehingga aku tidak tau ada manusia secantik itu, dian pernah berlibur di rumah neneknya. Itulah sebabnya tristan mau berteman denganku dan sering main ke rumah, mengerjakan tugas kelompok hanya jadi alasan untuk curi pandang ke arah dian. Sungguh aku tidak tau itu. Saat dian harus kembali ke luar negri tristan masih tetap sering berkunjung ke rumahku karna di rumahku tristan menemukan kehangatan dari seorang ibu. Sedari kecil tristan hanya tinggal dengan ayahnya.
Seketika dada ini sesak, selama ini aku pikir akulah tujuan utamanya tristan ternyata bukan. Aku cuman titik ekivalen yang harus tristan lewati untuk mencapai endpoint.
Aku membuka halaman lainnya secara acak langsung ke halaman paling belakang
Aku tercengang membaca ungkapan hati tristan di tanggal 2 mei 2020 tanggal dimana kami bertemu kedua kalinya setelah sekian lama.
Dan yang lebih membuatku merasa bersalah pada dian adalah sehari setelah pernikahan, tristan malah mencariku. Saat itu aku menghilang karna kecewa dengan pilihan tristan dan ibuku pergi dengan harapan kelak aku menikah dengan tristan. Oleh sebab itu aku memutuskan pergi menjauh dari tristan, tapi takdir mempertemukan kami kembali. menghilangnya aku membuatnya tersadar seharusnya pernikahan ini tidak terjadi. Seharusnya aku yang dia pilih.
Angin segarkah? atau badai angin topan? :D
Komentar
Posting Komentar